01959 2200313 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100082000800122084001400130100003200144245012900176250001400305300004400319650001300363700002800376700003000404700002700434520096800461264005101429336002101480337003001501338002301531856004101554990002501595990002501620INLIS00000000002326220251222101118 a0010-1225000046ta251222 g 0 ind  a978-602-481-834-0 a920 a920 SEN s0 aSeno Joko SuyonoePengarang1 aSei buku tempo :bChairil Anwar bagimu negeri menyediakan api /cSeno Joko Suyono, Nurdin Kalim, Anton Aprianto, Redaksi KPG aCetakan 5 aix + 152 halaman :bilustrasi ;c23 cm. 4aBIOGRAFI0 aNurdin KalimePengarang0 aAnton ApriantoePengarang0 aRedaksi KPGePengarang aChairil Anwar bukanlah sastrawan yang hanya merenung di balik meja lalu menulis puisi. Sajak " Diponegoro" yang petilannya menerakan kata-kata "Maju Serbu Serang Terjang", misalnya, ia tuliskan untuk menggelorakan kembali semangat juang. Melalui sajak ini, ia mengungkapkan sosok Diponegoro yang kuat dan liat menghadapi Belanda. Chairil tegas melawan kolonialisme. Sebuah kutipan populer yang menandakan semangat itu terambil dari puisi tersebut: sekali berarti, sudah itu mati. Sesudah kemerdekaan, sikap juang Chairil semakin kuat dan terlukis dalam puisi-pusisinya. Salah satunya adalah sajak "Krawang-Bekasi" yang ditulis berdasarkan pengalamannya saat Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Tapak berkesenian Chairil mencuatkan namanya sebagai pelopor Angkatan 45 yang mendobrak angkatan sebelumnya. Terkenal dengan potret diri yang ikonik dalam pose mengisap sebatang rokok, Chairil menghasilkan sajak-sajak yang memperkaya khazanah sastra Indonesia. aJakarta :bKepustakaan Populer Gramedia,c2022 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraVolume aPerpustakaan Umum Daerah Kota Kediri a50923/PU-KDR/PB/2025 a50924/PU-KDR/PB/2025